Senin, 21 Agustus 2017

Belajar Psikologi



BAB I
Ruang Lingkup Dan Definisi Psikologi



A. PENDAHULUAN
 
1.1 Latar Belakang

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar.

Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif


1.2 Rumusan Masalah
  
1.      Apa pengertian psikologi dan pendidikan?
2.      Apa objek kajian psikologi dan psikologi pendidikan?
3.      Apa ruang lingkup psikologi pendidikan?



B. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian psikologi dan pendidikan

Pengertian psikologi pendidikan tak lepas dari dua akar katanya yaitu kata psikologi dan pendidikan. Seperti yang kita tahu bahwa psikologi adalah ilmu jiwa. Lebih jelasnya psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu itu. Karena psikologi membahas hal demikian, maka jiwa seseorang , macam-macam gejalanya, proses dan hal-hal yang melatar belakanginya dipelajari disini.
Selanjutnya kata “Pendidikan” menurut KBBI adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Kemudian psikologi pendidikan memiliki arti sebuah disiplin ilmu psikologis yang mempelajari atau meneliti masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan baik faktor-faktornya maupun latar belakangnya.
Lebih jelasnya, psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang memusatkan perhatian pada perkembangan anak baik fisik maupun mental yang semuanya itu berkaitan erat dengan tindakan belajar, pendidikan dan yang paling signifikan adalah keberhasilan belajarnya.


2.2 Objek Kajian Psikologi Pendidikan

Objek kajian psikologi pendidikan tanpa mengabaikan persoalan psikologi guru terletak pada peserta didik. Karena hakikat pendidikan adalah pelayanan khusus diperuntukkan bagi peserta didik. Oleh karena itu objek kajian psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi pendidikan sebagai ilmu, tetapi lebih condong pada aspek psikologis peserta didik, khususnya ketika mereka terlibat dalam proses pembelajaran.

Menurut Glover dan Ronning bahwa objek kajian psikologi pendidikan mencakup topik-topik tentang pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, hereditas dan lingkungan, perbedaan individual peserta didik, potensi dan karakteristik tingkah laku peserta didik, pengukuran proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran, kesehatan mental, motivasi dan minat, serta disiplin lain yang relean.

Sedangkan menurut Syaodih Sukmadinata dalam Syaiful Sagala mengatakan bahwa objek kajian psikologi pendidikan adalah interaksi antara pendidik dengan peserta didik untuk meningkatkan kemampuan peserta didik, dengan dukungan sarana dan fasilitas tertentu yang berlangsung dalam lingkungan tertentu.

Psikologi pendidikan berusaha untuk mewujudkan tindakan psikologis yang tepat dalam interaksi antar setiap faktor pendidikan. Pengetahuan psikologis tentang peserta didik menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Karena itu, pengetahuan tentang psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para guru, bahkan bagi tiap orang yang menyadari dirinya sebagai pendidik.

Secara garis besar banyak ahli membatasi objek kajian psikologi pendidikan menjadi tiga macam:

  1. Mengenai “belajar”, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar peserta didik, dan sebagainya;
  2. Mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik;
  3. Mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan, baik bersifat fisik maupun nonfisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik
 2.3 Ruang lingkup psikologi pendidikan
Ruang lingkup psikologi pendidikan banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya hal ini dikemukakan oleh Crow & Crow yang menjelaskan ruang lingkup pendidikan dalam beberapa poin, diantaranya; sejauh mana faktor-faktor pembawaan dan lingkungan berpengaruh terhadap belajar, sifat-sifat dari belajar itu sendiri, hubungan tingkat kematangan dengan kesiapan belajar atau yang disebut dengan learning readiness.
Selain itu, perubahan-perubahan jiwa yang terjadi selama proses belajar, hubungan antara prosedur mengajar dan hasil belajar peserta didik, cara atau teknik yang sangat efektif untuk kemajuan belajar dan akibat/ pengaruh psikologis yang ditimbulkan para peserta didik oleh kondisi sosiologis dan sebagainya.
Pada intinya, psikologi pendidikan itu ruang lingkupnya membahas tentang hereditas dan lingkungan, pertumbuhan dan perkembangan, hasil proses pendidikan dan pengaruhnya, potensial dan karakteristik tingkah laku, dan evaluasi belajar.




BAB II
 Motivasi dan Emosi



A.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Stres, kecemasan ,depresi dan emosi negatif seperti sedih, marah , kecwa, putus asa jenuh, tidak bisa kita hindari secara penuh. Hal ini disebabkan perubahan kehidupan yang semakin cepat dan kompleks. Sebagai contoh krisis ekonomi yang dialami Indonesia menyebabkan dampak negatif yang menekan. Akibat tekanan emosi yang tidak dapat dikendalikan individu dapat menyebabkan hal yang negatif. Penjelasan tersebut menegaskan bahwa pentingnya kemampuan mengelola emosi untuk dikuasai dan dikembangkan. 
 
Motivasi merupakan istilah yang lebih umum, yang merujuk kepada seluruh proses gerakan termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul alam diri individu, perilaku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan atau akhir daripada tindakan atau perbuatan. Kebutuhan untuk mencari keseimbangan akan menimbulkan dorongan untuk berbuat sesuatu. Setelah perbuatan dilakukan, maka tercapailah keadaan seimbang dalam diri individu dan timbul perasaan puas, gembira, aman dan sebagainya
Adapun yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: definisi motivasi dan emosi, macam-macam motivasi dan emosI, teori-teori motivasi dan emosi, bentuk motivasi dan emosi,  serta fungsi motivasi dan proses terjadinya motivasi dan emosi.
Dengan pembahasan dalam makalah ini diharapkan, pembaca mampu mengetahui dan memahami definisi motivasi dan emosi, macam-macam motivasi dan emosI, teori-teori motivasi dan emosi, bentuk motivasi dan emosi,  serta fungsi motivasi dan proses terjadinya motivasi dan emosi.
B.PEMBAHASAN
2.1 Motivasi

Motivasi dan emosi mempunyai hubungan yang erat, perasaan menentukan tindakan kita, dan sebaliknyaa, perilaku seringkali menentukan bagaimana perasaan kita

2.1.1 Pengertian Motivasi
Motif, atau dalam bahasa inggris motive berasal dari kata movere (Italia) atau motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Dalam psikologi, istilah motif erat dengan gerak yang dilakukan oleh manusia atau disebut dengan perbuatan atau perilaku manusia. Motif dalam psikologi juga berarti rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu perbuatan atau perilaku.
Motivasi merupakan istilah yang lebih umum yang merujuk kepada seluruh gerakan itu, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbuldari dalam individu, perilaku yang timbul dari situasi tersebut, dan tujuan atau akhir dari perbuatan atau tindakan tersebut.
Motivasi adalah kekuatan, tenaga, keadaan yang komleks, kesiapsediaaan dalam diri manusia atau individu untuk bergerak (motion) kearah tujuan tertentu, baik disadari ataupun tidak di sadari.

2.1.2 Sumber-Sumber Motivasi
·         Intrinsik 
Sumber motivasi instrinsik adalah suatu perilaku dikategorikan didasari motivasi bila perilaku tersebut berhubungan dengan fungsi perilaku tersebut. Contoh: makan karena merasa lapar.
·         Ektrinsik 
Sumber motivasi ekstrinsik adalah bila dari perilaku tersebut tidak berhubungan langsung dengan perilaku tadi. Contoh: makan karena menghargai tawaran teman ,meskipun tidak lapar.

2.1.3 Macam-Macam Motivasi
·               Motivasi primer atau dasar bersifat tidak dipelajari. Contoh: seseorang sedang belajar, tiba-tiba mendengar teriakan “tolong” maka tanpa berpikir lagi orang tersebut akan bangkit dan mencari sumber suara tadi.
·             Motivasi sekunder berkembang dalam diri individu karena pengalaman dan dipelajari. Contoh: seseorang merasa takut dan bersembuyi ketika mendengar sirine pada masa perang, karena biasanya akan ada serangan.

2.1.4 Fungsi Motivasi
                Motivasi mempunyai beberapa fungsi, diantaranya:
·         Sebagai dorongan atau kekuatan oleh individu untuk melakukan sesuatu
·         Sebagai suatu respon yang dipelajari.
·         Sebagai energi
·         Sebagai perantara pada organisme atau manusia untuk manusia itu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
2.1.5 Teori-Teori Motivasi
            Ada beberapa teori motivasi, yaitu:
·         Teori insting (naluri) Seseorang tidak memiliki tujuan dan perbuatan tetapi dikuasai oleh kekuatan-kekuatan bawaan yang menentukan tujuan dan perbuatan yang akan dilakukan.
·         Teori dorongan Bahwa individu memiliki dorongan-dorongan yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan dalam berperilaku.
·         Teori kognitif Seseorang harus memilih perilaku mana yang mesti dilakukan yang akan membawa manfaat bagi dirinya.
Sebenarnya ada banyak para ahli dengan pendapat mereka masing-masing tentang teori motivasi, termasuk David McClelland dan A.H. Maslow.  Menurut Mclelland, ada tiga hal yang melatar belakangi motivasi seseorang:
a. The Need for Achievement (n-ach) – Kebutuhan akan Prestasi / Pencapaian
Kebutuhan akan prestasi adalah kebutuhan seseorang untuk memiliki pencapaian signifikan, menguasai berbagai keahlian, atau memiliki standar yang tinggi. Orang yang memiliki n-ach tinggi biasanya selalu ingin menghadapi tantangan baru dan mencari tingkat kebebasan yang tinggi.
      Sebab-sebab seseorang memiliki n-ach yang tinggi di antaranya adalah pujian dan imbalan akan kesuksesan yang dicapai, perasaan positif yang timbul dari prestasi, dan keinginan untuk menghadapi tantangan.
Tentunya imbalan yang paling memuaskan bagi mereka adalah pengakuan dari masyarakat
b. The Need for Authority and Power (n-pow) – Kebutuhan akan Kekuasaan
Kebutuhan ini didasari oleh keinginan seseorang untuk mengatur atau memimpin orang lain. Menurut Mclelland, ada dua jenis kebutuhan akan kekuasaan, yaitu pribadi dan sosial.
      Contoh dari kekuasaan pribadi adalah seorang pemimpin perusahaan yang mencari posisi lebih tinggi agar bisa mengatur orang lain dan mengarahkan ke mana perusahaannya akan bergerak. Sedangkan kekuasaan sosial adalah kekuasaan yang misalnya dimiliki oleh pemimpin seperti Nelson Mandela, yang memiliki kekuasaan dan menggunakan kekuasaannya tersebut untuk kepentingan sosial, seperti misalnya perdamaian.
c. TNeed for Affiliation (n-affil) – Kebutuhan akan Afiliasi / Keanggotaan
   Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang didasari oleh keinginan untuk mendapatkan atau menjalankan hubungan yang baik dengan orang lain. Orang merasa ingin disukai dan diterima oleh sesamanya.
      McClelland mengatakan bahwa kebutuhan yang kuat akan afiliasi akan mencampuri objektifitas seseorang. Sebab, jika ia merasa ingin disukai, maka isuka akaa.
      Sedangkan, sebab-sebab n-affil dari seseorang bisa bermacam-macam, dan salah satu contohnya bisa Anda lihat dari tragedi 11 September di Amerika Serikat. Setelah kejadian tersebut, banyak orang-orang Amerika yang melupakan kepentingan mereka dan memilih untuk bersatu sehingga mereka memiliki rasa aman.
          
  Hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow adalah sebagai berikut:
·         Kebutuhan fisiologis dasar, seperti makanan, pakaian, perumahan, dan fassilitas-fasilitas dasar lainnya yang berguna untuk kelangsungan hidup pekerja.
·         Kebutuhan akan rasa aman, seperti lingkungan kerja yang bebas dari segala bentuk ancaman, keamanan jabatan atau posisi, status kerja yang jelas, dan keamanan alat yang dipergunakan
·         Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, seperti interaksi dengan rekan kerja, kebebasan melakukan aktivitas sosial, dan kesempatan yang diberikan untuk menjalin hubungan akrab dengan orang lain.
·         Kebutuhan untuk dihargai, seperti pemberian penghargaan, dan mengakui hasil karya individu
·         Kebutuhan aktualisasi diri, seperti kebebasan dan kesempatan untuk merealisasikan cita-cita atau harapan individu, kebebasan untuk mengembangkan bakat atau talenta yang dimiliki.
 3.1 Emosi

Manusia adalah makhluk yang memiliki rasa dan emosi. Hidup manusia diwarnai dengan emosi dan berbagai macam perasaan. Manusia sulit menikmati hidup secara optimal tanpa memiliki emosi. Manusia bukanlah manusia jika tanpa adanya emosi. Kita memiliki emosi dan rasa, karena emosi dan rasa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita sebagai manusia. Ahli psikologi memandang manusia adalah makhluk secara alami memiliki emosi.
3.13.1 Pengertian Emosi
            Emosi berasal dari kata e yang berarti energi dan motion yang berarti getaran. Emosi kemudian dikatakan sebagai sebuah energi yang terus bergerak dan bergetar. Emosi dalam arti harfiah didefisinisikan sebagai setiap pergolakan atau kegiatan pikiran, perasaan, nafsu, dari setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu. Emosi cenderung mengarah untuk menyingkirkan sesuatu.
       Emosi adalah suatu konsep yang sangat majemuk tidak ada satupun definisi yang diterima secara universal. Emosi adalah suatu reaksi penilaian antara positif dan negative yg komplek dari system saraf seseorang karena diawali dari rangsangan baik dari luar (benda, manusia,situasi dan cuaca) ataupun dari dalam diri ita (tekanan darah, kadar gula, lapar,ngantuk dll).Emosi secara estimologi berasal dari kata prancis emotion yang berasal dari emouvoir yang artinya keluar ,bergerak atau bergerak keluar menjauh. Bisa dikatakan lepas kendali dari yang seharusnya. Emosi dalam pemakaian sehari-hari mengacu pada kepada ketegangan yang terjadi pada individu akibat dari tingkat kemarahan yang tinggi.
      Terdapat banyak pakar yang mendefinisikan pengertian emosi, diantaranya:
·         James dalam buku Purwanto dan Mulyono tahun 2006, mendefinisikan,emosi adalah keadaan jiwa yang menampakkan diri dengan sesuatu perubahan yang jelas pada tubuh.
·         Chaplin pada tahun 2002, mendefinisikan, emosi adalah suatu keadaan yang terangsang dari organisme yang mencakup perub ahan-perubahan yang didasari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan perilaku.
3.13.2 Teori – Teori Emosi
Ada dua macam pendapat tentang terjadinya emosi, yaitu pendapat nativistik (emosi adalah bawaan) dan pendapat empirik (emosi adalah hasil belajar/ pengalaman).
Teori emosi nativistik menurut Rene Descartes (1596), yaitu manusia sejak lahir memiliki enam emosi dasar, yaitu: cinta, kegembiraan, keinginan, benci, sedih dan kagum. Salah satu dasar yang melandasi teori natifistik adalah ekspresi emosi pada dasarnya sama dengan hewan dan manusia, anak kecil maupun orang dewasa.
Setelah Rene Descartes, terdapat banyak pakar yang mengajukan teori emosi  natifistik (bawaan lahir), diantaranya adalah:
Nama Pakar
Emosi Dasar
Dasar Pengambilan Kesimpulan
Arnold
Marah, enggan, berani, kecewa, hasrat, putus asa, takut, benci, berharap, cinta, sedih.
Hubungan dengan kecenderungan-kecenderungan.
Ekman, Friesen, dan Ellsworth
Marah, jijik, takut, gembira, sedih, kejutan.
Ekspresi wajah universal.
Fridja
Hasrat, bahagia, minat, kejutan, kaget, duka.
Bentuk kesiapan bertindak.
Gray
Gusar, teror, cemas, gembira.
Bakat
Izart
Marah, jijik, tidak suka, stress, takut, rasa bersalah, minat, gembira, malu, kejutan.
Bakat
James
Takut, cinta, duka, gusar.
Keterlibatan tubuh.
Mc Dougal
Marah, jijik, gembira, takut, tidak berdaya, perasaan lembut, kagum.
Hubungan dengan naluri.
Mowrer
Sakit, senang.
Keadan emosui yang tidak dipelajari.
Outley dan Johnson Laird
Marah, jijik, cemas, bahagia, sedih
Tidak memerlukan tujuan tertentu.
\Panksepp
Berharap, takut, gusar, panik
Bakat
Plutchik
Pasrah, marah, antisipasi, jijik, gembira, takut, sedih,kejutan
Hubungan dengan proses adaptasi tubuh.
Tomskin
Marah, interest, jijik, tidak suka, stres, takut, gembira.
Besarnya rangsangan syaraf
Watson
Takut, cinta, gusar.
Bakat.
Weiner dan Graham
Bahagia, sedih.
Atribusi mandiri.
Teori emosi golongan empiris menggutamakan hubungan jiwa yang berpusat diotak, dengan rangsangan dari luar melalui jaringan syaraf tubuh pada manusia. Yaitu dari indra ke pusat, dan diolah dipusat dan kembali ke tepi ( motorik/kelenjar-kelenjar) dalam bentuk reaksi tubuh.      
Terdapat teori empirik klasik tentang emosi, yaitu:
  • Teori somatik ( William James dan Carl Lange, akhir abad 19), emosi adalah reaksi terhadap perubahan –perubahan dalam sistem fisiologi tubuh.
  • Teori kognitif (Cannon Bard),  emosi sangat bergantung pada pengalaman, dipelajari, dan empirik serta reaksi motorik timbul setelah rasa takut.

3.13.3 Fungsi Emosi
 Meskipun emosi mempunyai banyak sisi negatifnya apabila kita tidak dapat mengendalikannya, namun emosi juga mempunyai fungsi yang baik untuk kehidupan kita,diantarannya adalah:
·         Sebagai pembangkit energy, tanapa emosi  tidak sdar atau sama dengan orang yang mati karena hidup artinya merasai, mengalami, bereaksi dan bertindak.
·         Sebagai pembawa  informasi yaitu keadaan diri sendiri dapat diketahui melalui emosi, contoh ketika bahagia berati mendapat sesuatu yang disenangi dan begitu pula sebaliknya.
·         Sebagai komunikasi contohnya seorang pembicara yang menyertakaan seluruh emosinya dalam berpidato dirasa lebih hidup, lebih dinamis dan dianggap lebih menyakinkan.
3.13.4 Macam –Macam Emosi
Macam-macam emosi teriri atas:
·         Emosi senang, umumnya didefinisikan sebagai segala sesuatu yang membuat kesenangan dalam hidup. Yang berekspresi memancarkan rautmuka yang berseri, tersenyum dan gembira.
·         Emosi marah, marah adalah emosi yang paling popular dalam percakapan sehari-hari. Banyak perilaku yang menyertai emosi marah, mulai dari tindakan diam atau menarik diri hingga ke tindakan yang agresif. Emosi marah dikenali melalui perubahan raut muka (merah padam), nada suara yang berat, atau sedang menyerang dan lain-lain
Macam-macam emosi menurut Daniel Goleman, yaitu :
·         Amarah adalah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
·         Kesedihan ialah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
·         Rasa takut merupakan salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, panik dan fobia.
·         Kenikmatan adalah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali dan mania.
·         Cinta ialah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran dan kasih sayang.
·         Terkejut merupakan salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi terkesiap, takjub dan terpana.
·         Jengkel adalah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka dan mau muntah.
·         Malu merupakan salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib dan hati hancur lebur.
Emosi hadir dalam dua bentuk, pertama adalah “tone emotional” atau latar belakang yang relative bertahan lama, atau yang disebut sebagai mood. Yang kedua adalah emosi spesifik dari kegembiraan, kemarahan, ketakutan dsb. Dan akan kembali lagi dengan periode yang bervariasi tergantung pada individu yang mengalaminya.
3.13.5 Proses Terjadinya Emosi
    Ada dua macam pendapat tentang terjadinya emosi, yaitu pendapat nativistik atau bawaan dan pendapat empiric atau hasil belajar. Salah satu argumentasi yang melandasi teori-teori nativistik adalah bahwa ekpresi emosi pada dasarnya sama saja diantara hewan dan manusia. Sedangkan secara empiris sangat mengutamakan hubungan antara jiwa yang berpusat di otak dengan rangsangan-rangsangan dari lingkungan melalui jaringan syaraf pada tubuh manusia, yaitu indra, otak, motoric dalam bentuk reaksi-reaksi tubuh. Selain itu ada teori empiric klasik ,yang didasarkan pada hubungan otak atau syaraf dengan rangsangan dari lingkungan. Jelaslah menurut psikologi kognitif, emosi sangat tergantung pada pengalaman, dipelajari dan empirik. Pada umunya, emosi itu bisa konkrit dan bisa abstrak. Maka emosi yang konkrit berkisar pada hal-hal yang dapat diraba seperti orang atau benda. Adapun emosi yang abstrak terpusat pada pengertian, seperti cinta akan keindahan, cinta harga diri, dan menghargai.                                                                                                                                   
3.13.6  Hubungan AntaraMotivasi dan Emosi
       Para ahli yang menekuni bidang psikoanalisa percaya bahwa emosi merupakan representasi dari ketidaksadaran. Emosi atau afek dalam istilah psikoanalisa merupakan mekanisme mengontrol semua aspek perilaku manusia. Emosi dipercaya sangat dekat berhubungan dengan dorongan atau motif. emosi merupakan bagian dari motivasia yang saling berkaitan dan tidak bisa lepas antara keduanya. Emosi senantiasa melahirkan dorongan-dorongan untuk melakukan sesuatu terkait tuntutan emosi yang dirasakan pada saat itu.
       Untuk menghindari situasi tanpa harapan, seseorang dilahirkan dengan kapasitas untuk merasa tertekan dan menarik diri. Pendek kata, emosi adalah cara bagaimana kebutuhan seorang manusia di penuhi. Kebutuhan untuk dilindungi, aman, berkuasa, mengontrol, tertarik, dan otonomi diri dipenuhi melalui emosi-emosi yang muncul. Misalnya kebutuhan berkuasa memunculkan rasa sombong dan bangga jika sudah berkuasa. Jika belum berkuasa, muncullah rasa was-was atau terancam pihak yang berkuasa, yang oleh karenanya mendorong untuk jadi berkuasa.
       Sistem motivasional manusia dipercaya menunjukkan dirinya melalui emosi. Pada saat sebuah emosi muncul, itulah tanda bahwa motivasi tertentu menjadi aktif. Misalnya saat merasa lapar,  ketika  menemukan makanan, muncullah emosi tertentu yang menunjukkan aksesibilitas terhadap makanan itu. Jika makanan itu berbau dan berbelatung, mungkin muncul rasa jijik sehingga kita tidak mau memakannya. Jika makanan itu dimakan, muncullah emosi lega.
       Kita mungkin tidak menyadari dorongan, motif atau motivasi kita dalam suatu saat. Namun demikian adalah nyata bahwa hal-hal tersebut mempengaruhi emosi kita. Mengapa emosi cinta muncul pada lawan jenis yang menarik? Tidak lain karena kita memiliki dorongan seksual terhadap lawan jenis. Kadang kita kurang menyadari hal itu. Adapun yang kita sadari hanyalah kita rindu ingin bertemu.
       Emosi merupakan motivator utama manusia dalam menjalani hidup. Manusia selalu berupaya memaksimalkan emosi-emosi yang menyenangkan dan meminimalkan emosi-emosi yang tidak menyenangkan. Hampir semua kegiatan yang dilakukan manusia dalam rangka itu. Meskipun tentu saja tidak selalu berhasil. Namun pasti, itulah yang dilakukan semua orang. Orang bekerja adalah dalam rangka mendapatkan emosi yang lebih menyenangkan. Orang berharap lebih bahagia jika berhasil melakukannya.


 
BAB III
Kepribadian 

A.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Psikologi kepribadian adalah salah satu cabang dari ilmu psikologi. Psikologi kepribadian merupakan salah satu ilmu dasar yang penting guna memahami ilmu psikologi. Manusia sebagai objek material dalam pembelajaran ilmu psikologi tentu memiliki kepribadian dan watak yang berbeda satu dengan yang lainnya. Watak digunakan untuk memberikan penafsiran kepada benda-benda maupun manusia. 

secara sederhana bahwa yang dimaksud kepribadian (personality) merupakan ciri-ciri dan sifat-sifat khas yang mewakili sikap atau tabiat seseorang, yang mencakup pola - pola pemikiran dan perasaan, konsep diri, dan mentalitas yang umumnya sejalan dengan kebiasaan umum. Dari situ lah timbul yang namanya  pengetahuan, Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui yang tersusun secara logis dan sistematis dengan memperhitungkan sebab –akibat dan dapat untuk menerangkan gejala – gejala tertentu. Unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. 

Seiring dengan perkembangan zaman dan berkembangnya rasa keingintahuan dalam memahami manusia. Salah satu teori yang dijadikan pembelajaran dalam memahami kepribadian dan watak manusia. 



B.PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kepribadian

Pengertian kepribadian adalah ciri – ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus, yang dimaksudkan adalah bahwa orang tersebut mempunyai beberapa ciri watak yang diperlihatkan secara lahir, konsisten dan konskuen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berada dari individu – individu. ( Koetjaraningrat, 1985:102).
Pengertian kepribadian menurut para ahli sebagai berikut : 
  • Menurut Yinger kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi. 
  • Menurut M.A.W Bouwer kepribadian adalah corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang. 
  • Menurut Cuber kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang. 
  • Menurut Theodore R. Newcombe kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku. 
  • Menurut Horton Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan temparmen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan prilaku yang baku, atau pola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya. 
  • Menurut Schever Dan Lamm  mendefinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri kas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atu baku, sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi. 
  • Menurut Roucek dan WarrenKepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku seseorang. 
Dari pengertian yang diungkapkan oleh para ahli di atas, dapat kita simpulkan secara sederhana bahwa yang dimaksud kepribadian (personality) merupakan ciri-ciri dan sifat-sifat khas yang mewakili sikap atau tabiat seseorang, yang mencakup pola - pola pemikiran dan perasaan, konsep diri, dan mentalitas yang umumnya sejalan dengan kebiasaan umum.



2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian antara lain:
  • Faktor Biologis
Faktor biologis merupakan faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani, atau seringkali pula disebut faktor fisiologis seperti keadaan genetik, pencernaan, pernafasaan, peredaran darah, kelenjar-kelenjar, saraf, tinggi badan, berat badan, dan sebagainya. Kita mengetahui bahwa keadaan jasmani setiap orang sejak dilahirkan telah  menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan. Hal ini dapat kita lihat pada setiap bayi yang baru lahir. Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat jasmani yang ada pada setiap orang ada yang diperoleh dari keturunan, dan ada pula yang merupakan pembawaan anak/orang itu masing-masing. Keadaan fisik tersebut memainkan peranan yang penting pada kepribadian seseorang.
  • Faktor Sosial
Faktor sosial yang dimaksud di sini adalah masyarakat ; yakni manusia-manusia lain disekitar individu yang bersangkutan. Termasuk juga kedalam faktor sosial adalah tradisi-tradisi, adat istiadat, peraturan-peraturan, bahasa, dan sebagainya yang berlaku dimasyarakat itu.
Sejak dilahirkan, anak telah mulai bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Dengan lingkungan yang pertama adalah keluarga. Dalam perkembangan anak, peranan keluarga sangat penting dan menentukan bagi pembentukan kepribadian selanjutnya. Keadaan dan suasana keluarga yang berlainan memberikan pengaruh yang bermacam-macam pula terhadap perkembangan kepribadian anak.
Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak sejak kecil adalah sangat mendalam dan menentukan perkembangan pribadi anak selanjutnya. Hal ini disebabkan karena pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama, pengaruh yang diterima anak masih terbatas jumlah dan luasnya, intensitas pengaruh itu sangat tinggi karena berlangsung terus menerus, serta umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana bernada emosional. Kemudian semakin besar seorang anak maka pengaruh yang diterima dari lingkungan sosial makin besar dan meluas. Ini dapat diartikan bahwa faktor sosial mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan kepribadian.
  • Faktor Kebudayaan
                Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada diri masing-masing orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat di mana seseorang itu dibesarkan. Beberapa aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian antara lain:
a.       Nilai-nilai (Values)
Di dalam setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh manusia-manusia yang hidup dalam kebudayaan itu. Untuk dapat diterima sebagai anggota suatu masyarakat, kita harus memiliki kepribadian yang selaras dengan kebudayaan yang berlaku di masyarakat itu.
b.      Adat dan Tradisi.
Adat dan tradisi yang berlaku disuatu daerah, di samping menentukan nilai-nilai yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya, juga menentukan pula cara-cara bertindak dan bertingkah laku yang akan berdampak pada kepribadian seseorang.
c.       Pengetahuan dan Keterampilan.
Tinggi rendahnya pengetahuan dan keterampilan seseorang atau suatu masyarakat mencerminkan pula tinggi rendahnya kebudayaan masyarakat itu. Makin tinggi kebudayaan suatu masyarakat makin berkembang pula sikap hidup dan cara-cara kehidupannya.
d.      Bahasa
Di samping faktor-faktor kebudayaan yang telah diuraikan di atas, bahasa merupakan salah satu faktor yang turut menentukan cirri-ciri khas dari suatu kebudayaan. Betapa erat hubungan bahasa dengan kepribadian manusia yang memiliki bahasa itu. Karena bahasa merupakan alat komunikasi dan alat berpikir yang dapat menunukkan bagaimana seseorang itu bersikap, bertindak dan bereaksi serta bergaul dengan orang lain.
e.       Milik Kebendaan (material possessions)
Semakin maju kebudayaan suatu masyarakat/bangsa, makin maju dan modern pula alat-alat yang dipergunakan bagi keperluan hidupnya. Hal itu semua sangat mempengaruhi kepribadian manusia yang memiliki kebudayaan itu.
2.3 Hubungan Kepribadian Dengan Kebudayaan
Menurut Roucek dan Warren, kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. Faktor biologis misalnya, sistem syaraf, proses pendewasaan, dan kelainan biologis lainnya, sedangkan faktor psikologis adalah seperti unsur temperamen, kemampuan belajar, perasaan, keterampilan, keinginan dan lain-lain. Dan yang terakhir, adalah faktor sosiologis. Kepribadian dapat mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap dan lain-lain yang khas dimiliki oleh seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain 
  
Seseorang yang sejak kecil dilahirkan sampai dewasa selalu belajar dari orang-orang disekitarnya. Secara bertahap dia akan mempunyai konsep kesadaran tentang dirinya sendiri. Lama-kelamaan perilaku-perilaku si anak akan menjadi sifat yang nantinya menghasilkan suatu kepribadian.  
Berikut ini adalah beberapa kebudayaan khusus yang nyata mempengaruhi bentuk kepribadian yakni:
  • Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan
Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang melamar.
  • Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life ).
Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai ( sense of value ).
  • Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial
Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial tinggi, rendah dan menengah. Misalnya cara berpakaian, etiket, pergaulan, bahasa sehari-hari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing kelas mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang tersendiri pula pada setiap individu.
  • Kebudayaan khusus atas dasar agama
Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya.
  • Kebudayaan berdasarkan profesi
Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara mereka bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai kepribadian yang sangat erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah biasa berpindah tempat tinggal.

2.4 Hubungan Kepribadian Dengan Keragaman Individu.
Keesing (1989, 1 : 95 ) menyatakan Asumsi – asumsi dasar tersebut di atas ( hubungan kepribadian dengan budaya ) menunjukkan bahwa adanya pengaruh biologis terhadap pembentukan tingkah laku manusia. Selain unsur biologis, ternyata juga dipengaruhi oleh faktor yang berbeda antara satu dengan lain. Pengakuan pentingnya faktor – faktor biologis tersebut menghilangkan dasar – dasar budaya. Sementara pendapat suatu karakteristik  dapat mendasari dan membatasi keragaman budaya, sedangkan pihak lain menjelaskan bahwa berbagai perbedaan bawaan dan keragaman pengalaman individu menyulitkan pembakuan seseorang yang diasumsikan.Hal ini sekaligus membuka kesempatan ke arah kajian tentang kemungkinan adanya pola – pola universal yang disalurkan,diutarakan dan dinilai berdasarkan tradisi budaya yang berbeda. Tradisi budaya dapat memaksakan pencapaian berbagai sasaran yang berlainan , pelampiasan. Tetapi di bawah sandi harapan budaya ini. 


2.5 Unsur-Unsur Kepribadian
Koentjaraningrat (1985:103-110) menjelaskan ada beberapa unsur yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian sebagai berikut : 

  • Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui yang tersusun secara logis dan sistematis dengan memperhitungkan sebab –akibat dan dapat untuk menerangkan gejala – gejala tertentu. Unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Dalam lingkungan individu itu ada bermacam-macam hal yang dialaminya melalui penerimaan pancaindera-nya serta alat penerima atau reseptor organismenya yang lain, sebagai getaran eter (cahaya dan warna), getaran akustik (suara), bau, rasa, sentuhan, tekanan mekanikal (berat-ringan), tekanan termikal (panas-dingin) dan sebagainya, yang masuk ke dalam sel-sel tertentu di bagian-bagian tertentu dari otaknya. Di sana berbagai proses fisik, fisiologi, dan psikologi terjadi, yang menyebabkan berbagai macam getaran tekanan tadi, kemudian diolah menjadi suatu susunan yang dipancarkan atau diproyeksikan oleh individu tersebut menjadi suatu penggambaran tentang lingkungan tadi. Seluruh proses akal yang sadar (conscious) tadi, dalam ilmu psikologi disebut “persepsi”.
  • Perasaan
      Perasaan adalah rasa, kesadaran batin sewaktu menghadapi mempertimbangkan tentang sesuatu hal/pendapat. Selain pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan. Kalau orang pada suatu hari yang luar biasa panasnya melihat papan gambar reklame minuman Green tea berwarna yang tampak segar dan nikmat, maka persepsi itu menyebabkan seolah-olah terbayang di mukanya suatu penggambaran segelas Green tea yang dingin dan penggambaran itu dihubungkan oleh akalnya dengan penggambaran lain yang timbul kembali sebagai kenangan dalam kesadarannya, menjadi suatu apersepsi tentang dirinya sendiri yang tengah menikmati segelas Green tea dingin, manis, dan menyegarkan pada waktu hari sedang panas-panasnya yang seakan-akan demikian realistiknya sehingga keluarlah air liurnya. Apersepsi seorang individu yang menggambarkan diri sendiri sedang menikmati segelas Green tea dingin tadi menimbulkan dalam kesadarannya suatu perasaan yang positif, yaitu perasaan nikmat dan perasaan nikmat itu sampai nyata mengeluarkan air liur.
      Sebaliknya, kita dapat juga menggambarkan adanya seorang individu yang melihat sesuatu hal yang buruk atau mendengar suara yang tidak menyenangkan, mencium bau busuk, dan sebagainya.Persepsi-persepsi seperti itu dapat menimbulkan dalam kesadaran perasaan yang negatif, karena dalam kesadaran terkenang lagi misalnya bagaimana kita menjadi muak karena sepotong ikan yang sudah busuk yang kita alami di masa lampau.Apersepsi tersebut mungkin dapat menyebabkan kita menjadi benar-benar merasa muak apabila kita mencium lagi bau ikan busuk.
  • Dorongan Naluri
      Dorongan naluri adalah dorongan hati yang dibawa sejak lahir, yang tanpa disadari mendorong untuk berbuat sesuatu. Kesadaran manusia menurut para ahli psikologi juga mengandung berbagai perasaan lain yang tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuannya, melainkan karena sudah terkandung dalam organismenya, dan khususnya dalam gen-nya sebagai naluri. Kemauan yang sudah merupakan naluri pada tiap makhluk manusia itu, oleh beberapa ahli psikologi disebut “dorongan” (drive).
                Ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu :
a.       Dorongan untuk mempertahankan hidup
Dorongan ini memang merupakan suatu kekuatan biologi yang juga pada semua makhluk di dunia ini dan yang menyebabkan semua jenis mampu mempertahankan hidupnya di dunia ini.
b.      Dorongan seks.
Dorongan ini timbul pada setiap individu yang normal tanpa terkena pengaruh pengetahuan, dan memang mendorong landasan biologi yang mendorong makhluk manusia untuk membentuk keturunan yang melanjutkan jenisnya. Selain untuk mendapatkan keturunan, juga untuk mendapatkan status sosial.
c.       Dorongan untuk usaha mencari makan/pekerjaan.
Dorongan ini tidak perlu dipelajari, sejak bayi pun manusia sudah menunjukkan dorongan untuk mencari makanan ,  yaitu dengan mencari susu ibunya tanpa dipengaruhi oleh pengetahuan tentang adanya hal- hal tersebut, dan ini berkembang (mencari kerja) berdasarkan pengalaman dan pengetahuan serta faktor lingkungan di sekitar.
d.      Dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia.
Dorongan ini memang merupakan landasan biologi dari kehidupan masyarakat manusia sebagai makhluk sosial.
e.       Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya.
Hal ini merupakan sumber dari adanya beraneka warna kebudayaan diantaranya di antara makhluk manusia, sebab adanya dorongan ini manusia mengembangkan adat yang memaksakan berbuat  konform dengan manusia sekitarnya.
f.       Dorongan untuk berbakti.
Hal ini ada karena manusia sebagai makhluk secara kolektif, sehingga ia dapat hidup bersama dengan manusia lain secara serasi. Dalam berbagai hal dorongan ini sering dieksetensikan dari sesama manusia kepada kekuatan yang diangapannya berada di luar akalnya, maka timbul religi.
g.       Dorongan akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak.
Dorongan dalam arti keindahan bentuk,warna,suara,dan gerak, pada seorang bayi dorongan itu sering tampak pada gejala tertariknya kepada bentuk – bentuk tertentu dari benda- benda di sekitarnya, warna –warna cerah, suara yang nyaring, dan berirama dan kepada gerak-gerak yang selaras. Sehingga dorongan naluri ini merupakan landasan dari suatu unsur terpenting dalam kebudayaan manuai yaitu kesenian.

2.6 Materi Dari Unsur-Unsur Kepribadian 
Dalam sebuah konsep kepribadian umum,makin dipertajam dengan terciptanya konsep basic personality structure, atau “kepribadian dasar”, yaitu semua semua unsur kepribadian yang dimiliki sebagian besar warga suatu masyarakat. 
Kepribadian dasar ada karena semua individu warga masyarakat mengalami pengaruh lingkungan kebudayaan yang sama selama pertumbuhan mereka. Metodologi untuk mengumpulkan data mengenai kepribadian bangsa dapat dilakukan dengan mengumpulkan sample dari warga masyarakat yang menjadi objek penelitian, yang kemudian diteliti kepribadiannya dengan tes Psikologi.
Selain ciri watak umum, seorang Individu memilki ciri-ciri wataknya sendiri, sementara adaindividu-individu dalam sample yang tidak meliki unsur-unsur kepribadian umum. Pendekatan dalam penelitian kepribadian suatu kebudaya juga dilaksanakan dengan metode lain yang didasarkan pada ciri-ciri dan unsur watak seorang individu dewasa.
Pembentukan watak dan jiwa individu banyak dipengaruhi oleh pengalamannya di masa kanak-kanak serta pola pengasuhan orang tua.Berdasarkan konsepsi Psikologi tersebut, para ahli Antropologi berpendirian bahwa dengan mempelajari adat-istiadat pengasuhan anak yang khas akan dapat mengetahui adanya berbagai unsur kepribadian pada sebagian besar warga yang merupakan akibat dari pengalaman-pengalaman mereka sejak masa kanak-kanak.
Penelitian mengenai etos kebudayaan dan kepribadian bangsa yang pertama-tama dilakukan oleh tokoh Antroplogi R. Benedict, R. Linton, dan M. Mead.Sehingga menjadi bagian khusus dalam antropologi yang dinamakan personality and culture.
         Seorang ahli etnopsikologi, A.F.C. Wallace, pernah membuat suatu kerangka dimana terdaftar secara sistematikal seluruh materi yang menjadi objek dan sasaran unsur-unsur kepribadian manusia. Kerangka itu menyebut tiga hal yang pada tahap pertama merupakan isi kepribadian pokok, yaitu :
1.      Aneka warna kebutuhan organik diri sendiri, aneka warna kebutuhan serta dorongan organik maupun psikologi sesama manusia yang lain daripada diri sendiri. Sedangkan kebutuhan tadi dapat dipenuhi atau tidak dipenuhi oleh individu yang bersangkutan, sehingga memuaskan dan bernilai positif baginya, atau tidak memuaskan dan bernilai negatif.
2.      Aneka warna hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identitas diri sendiri atau identitas aku, baik aspek fisik maupun psikologinya, dan segala hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu mengenai bermacam-macam kategori manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda, zat, kekuatan, dan gejala alam, baik yang nyata maupun yang gaib dalam lingkungan sekelilingnya.
3.      Berbagai macam cara untuk memenuhi. Memperkuat, berhubungan, mendapatkan, atau mempergunakan aneka warna kebutuhan dari hal tersebut di atas, sehingga tercapai keadaan memuaskan dalam kesadaran individu bersangkutan. Pelaksanaan berbagai macam cara dan jalan itu terwujud dalam aktivitas dari seorang individu.

2.7 Aneka Warna Kepribadian
Koentjraningrat (1985:115) menjelaskan bahwa Aneka warna materi yang menjadi isi dan sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak, serta keinginan kepribadian serta perbedaan kualitas hubungan antara berbagai unsur kepribadian dalam kesadaran individu, menyebabkan adanya beraneka macam struktur kepribadian pada setiap manusia yang hidup dimuka bumi, dan menyebabkan bahwa peribadian tiap individu itu unik berbeda dengan kepribadian individu yang lain. Hal ini menyebabkan suatu tingkah laku yang berpola yaitu kebiasaan maupun berbagai macam materi yang menyebabkan timbulnya kepribadian , dan berbagai tingkah laku berpola dari individu – individu tersebut.

2.8 Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian

Perkembangan kepribadian menurut Jean Jacques Rousseau berlangsung dalam beberapa tahap yaitu:
1.      Tahap perkembangan masa bayi (sejak lahir- 2 tahun)
Tahap ini didominasi oleh perasaan.Perasaan ini tidak tumbuh dengan sendiri melainkan berkembang sebagai akibat dari adanya reaksi-reaksi bayi terhadap stimulus lingkungan.
2.      Tahap perkembangan masa kanak-kanak (umur 2-12 tahun)
Pada tahap ini perkembangan kepribadian dimulai dengan makin berkembangnya fungsi indra anak dalam mengadakan pengamatan.
3.      Tahap perkembangan pada masa preadolesen (umur 12- 15 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan. Anak mulai kritis dalam menanggapi ide orang lain. anak juga mulai belajar menentukan tujuan serta keinginan yang dapat membahagiakannya.
4.      Tahap perkembangan masa adolesen (umur 15- 20 tahun)
Pada masa ini kualitas hidup manusia diwarnai oleh dorongan seksualitas yang kuat, di samping itu mulai mengembangkan pengertian tentang kenyataan hidup serta mulai memikirkan tingkah laku yang bernilai moral.
5.      Tahap pematangan diri (setelah umur 20 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi kehendak mulai dominan.Mulai dapat membedakan tujuan hidup pribadi, yakni pemuasan keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok, serta pemuasan keinginan masyarakat.Pada masa ini terjadi pula transisi peran social, seperti dalam menindaklanjuti hubungan lawan jenis, pekerjaan, dan peranan dalam keluarga, masyarakat maupun Negara. Realisasi setiap keinginan

2.9 Kepribadian Umum
Koentjaraningrat (1985:117) mengutip pendapat Ralp Linton menyatakan bahwa yang mengembangkan suatu penelitian tentang kepribadian umum. Ia mencari hubungan dengan para ahli psikologi untuk mempertajam pengertian tentang konsep – konsep psikologi yang menyangkut kepribadian umum tersebut. Kepribadian dasar itu ada karena semua individu dari warga masyarakat mengalami pengaruh lingkungan kebudayaan yang sama selama masa tumbuhnya. 
Pembentukan watak dalam jiwa individu banyak dipengaruhi oleh pengalaman ketika ia sebagai anak – anak yang diasuh orang – orang dalam lingkungan nya seperti : bapak –ibunya, saudara-saudaranya dan orang –orang yang ada dalam sekitarnya. Watak juga ditentukan oleh cara – cara ia sewaktu masih kecil: diajari makan,kebersihan,disiplin,bermain dan bergaul dengan anak – anak lainnya. Oleh sebab itu setiap kebudayaan /masyarakat mempunyai cara pengasuhan anak menunjukkan keseragaman pola –pola adat dan norma –norma tertentu.
  
Penelitian pertama mengenal etos kebudayaan dan kepribadian bangsa yang dimulai oleh antropolog: R. Benedit, Ralph Linton dan Margaret Mead yang dikembangkan dalam penelitian kepribadian dan kebudayaan.

Koertjaraningrat (1985;111-130) membedakan antara kepribadian barat dan kepribadian timur, yaitu :
1.      Kepribadian barat yaitu konsep tentang pandangan hidup yang lebih mementingkan material,pikiran logis/rasional, hubungan sosial berorientasi pada azas menguntungkan dan bersifat individual.
2.      Kepribadian timur yaitu konsep tentang pandangan hidup yang lebih mementingkan kerohanian, keramahan, solidaritas sosial, kerukunan hidup bersama, spritual dan berpikir logis.
BIG THANKS TO 🙂